Senin, 12 November 2012

Radio Rimba Raya, Pahlawan Indonesia di Udara

image : lintasgayo.com

Belanda, pada tahun 1945 mengumandangkan kemenangannya atas Indonesia melalui siaran radio Hilversum. Namun, propaganda tersebut berhasil dipatahkan oleh Radio Rimba Raya.
======================================
Radio Rimba Raya merupakan saksi sejarah era kemerdekaan yang memberitakan tentang proklamasi Indonesia, ketika melawan Belanda tahun 1945. Pada saat itu Belanda telah menguasai ibu kota pemerintahan Indonesia. Mereka (Belanda) mengumumkan lewat radio Hilversum (milik Belanda) kepada dunia, bahwa Negara Indonesia tidak ada lagi.

Tapi dengan suara yang sayup lantang dari Dataran Tinggi Tanah Gayo, Radio Rimba Raya membatalkan berita tersebut dan mengatakan Indonesia masih ada. Siaran itu dapat ditangkap jelas oleh sejumlah radio di Semenanjung Melayu (Malaysia), Singapura, Saigon (Vietnam), Manila (Filipina) bahkan Australia dan Eropa.

Akhirnya, akibat berita yang disuarakan itu, banyak negara dunia dengan serta merta mengakui kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan Radio Rimba Raya merupakan pukulan “KO” bagi Pemerintahan Belanda.

Perangkat Radio Rimba Raya itu dipesan oleh tentara Divisi Gajah I dan dibeli melalui raja penyelundup Asia Tenggara waktu itu, John Lie (seorang pahlawan nasional, Tionghoa dari Manado) yang menjadi perantara pembelian perangkat radio tersebut, menjelang Agresi Militer Belanda I bulan Juli 1947. Perangkat Radio Rimba Raya itu dibeli di Malaya dan dibawa ke kota juang Bireuen.

Untuk mengangkut perangkat penyiaran dari Malaya ke Aceh, John Lie menggunakan dua buah speedboat, yang satu berisi bahan makanan dan kelontong, yang satunya lagi berisi alat pemancar radio. Ketika berpapasan dengan patroli laut Belanda, speedboat yang berisi bahan makanan dan kelontong melaju dengan kencang untuk memberi kesan mencurigakan.

Patroli Belanda terpancing lalu mengejar speedboat tersebut dan berhasil dilumpuhkan. Sedangkan speedboat yang berisi alat pemancar dengan enak melaju menuju pantai Sumatera dan mendarat di Sungai Yu, Aceh Timur.

Tapi, keterangan lain menyebutkan, orang yang membeli peralatan itu adalah Nip Xarim, pernah menjabat Wakil Pemerintah Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo yang berkedudukan di Pangkalan Brandan. Gubernur Militer waktu itu dijabat Daud Beureueh.

Nip Xarim membeli perakatan radio itu bersama Dr. Sofyan, justru sebelum Agresi Militer I 1947 dan disimpan di Pangkalan Brandan. Peralatan dibeli di Malaya. Sejarawan UGM, Mukhtar Ibrahim membenarkan hal ini.

Dalam buku berjudul “Peranan Radio Rimba Raya” terbitan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Aceh, disebutkan sebelum di Rime Raya, pemancar radio dipasang di Krueng Simpo. Sementara studionya dibawa ke kediaman Kolonel Husein Yoesoef, Komandan Tentara Republik Indonesia Divisi Gajah I, di Bireuen.

Radio menggunakan pemancar merek Marcori yang dibawa dari Malaysia oleh Mayor John Lie. Ia penyeludup kelas wahid kala itu yang oleh Belanda di juluki “The Greatest Smuggler of the Southeast”.

Perangkat pemancar itu didaratkan di Kuala Yu, Kuala Simpang. Di sana, John Lie disambut Nukum Sanani atas perintah Daud Beureueh, Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Setelah itu perangkat radio dibawa ke Langsa dan selanjutnya ke Bireuen.

Namun versi lain menyebutkan pada awal agresi militer Belanda pertama, 27 Juli 1947, perangkat pemancar dibawa Kapten NIP Karim (ada yang menulisnya Nip Xarim). Ia Komandan Batalyon B di Tanjung Pura, Langkat. Karim juga pernah menjabat Wakil Pemerintah Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo yang berkedudukan di Pangkalan Brandan. Lalu Husein Yoesoef  meminta NIP Karim membawa pemancar ke Bireuen.

Ikmal Gopi yang meneliti riwayat John Lie, menyebutkan sang mayor berangkat ke Singapura menumpang kapal Inggris pada 1947 saat meletus agresi militer pertama. Baru pada September 1947, kata Ikmal, John Lie singgah ke Pelabuhan Bilik Medan lalu ke Pelabuhan Raja Ulak di Kuala Simpang.

Yang pasti, tak lama di Bireuen, beberapa bulan kemudian pemancar dipindahkan ke Cot Gue, Kutaraja (Banda Aceh). Alasan pemindahan menurut Ikmal karena kondisi keamanan dan untuk mempercepat pemberitaan perjuangan kemerdekaan.

Di Kutaraja, pemancar radio dipasang di Cot Gue. Sedangkan studio dibuat dalam sebuah gedung peninggalan Belanda di Peunayong. Antara pemancar dan studio terhubung kabel.

Namun ketika pemancar di Cot Gue sedang dipasang, Belanda melancarkan agresi militer kedua pada 19 Desember 1948. Daud Beureueh memerintahkan pemancar dipindahkan ke Gayo.

Seperti tercatat dalam prasasti tadi, setelah Yogya jatuh, Belanda mulai menguasai wilayah-wilayah lain di Indonesia kecuali Aceh. Sehari kemudian perangkat pemancar diberangkatkan secara diam-diam ke Aceh Tengah, di Kampung Rime Raya, Kecamatan Timang Gajah. Pemancar tersebut akhirnya didirikan di Krueng Simpo, sekitar 20 kilometer dari Bireuen arah Takengon.

Namun masalah timbul, tak ada mesin listrik. Ummi Salamah, istri Husein Yoesoef berusaha mendapatkannya ke Lampahan dan Bireuen. Usaha itu gagal. Mesin listrik akhirnya diperoleh Ummi dari Kuala Simpang. Beres soal listrik, muncul masalah lain, kabel tak cukup. Setelah dicari kabel akhirnya ditemukan di Lampahan dan Bireuen.

Radio dibangun di pucuk gunung dan tersembunyi. Sebuah rumah juga dibangun untuk tempat peralatan kelengkapan radio. Sedangkan studio radio berada di salah satu kamar rumah Husein Yoesoef.

Pemasangan radio dilakukan beberapa desertir pasukan Sekutu seperti W Schult, Letnan Satu Candra, Sersan Nagris, Sersan Syamsuddin, Abubakar, dan Letnan Satu Abdulah. Mereka tentara Inggris yang bergabung dengan Sekutu.

Para desertir membantu membuat gubuk dan membangun radio sesuai keahlian masing-masing. Studio dibangun di bawah pohon tinggi dan rindang. Antena ditancapkan di atas pohon. Di gubuk juga dipasang pesawat radio penerima berita khusus.

Dengan mesin diesel, radio mengudara sejak pukul 16.00 hingga 18.00 WIB. Selain bahasa Indonesia, beberapa bahasa asing digunakan saat siaran seperti Inggris, Belanda, Arab, Cina, Urdu, India, dan Pakistan Madras.

Para desertir itulah yang menyiarkan siaran dalam bahasa asing. Seperti tertera dalam prasasti di bawah tugu, sesudah mengudara menembus angkasa, Radio Rimba Raya mengabarkan pada dunia bahwa Indonesia masih ada.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar