Selasa, 24 Juli 2012

Kitab Bertulis Arab Melayu Nyaris Punah

Kolektor naskah kuno Aceh, Tarmizi A Hamid (kiri), memperlihatkan dua kitab kuno yang memberitakan tentang bencana gempa bumi yang terjadi di Aceh masa lalu, Jumat (13/4/2012).

SERAMBINEWS.COM - Kitab-kitab klasik bertuliskan aksara atau huruf  Arab berbahasa Melayu nyaris berada di ambang kepunahan. Untung Erwin Mahrus dan teman- teman peneliti naskah klasik lain tidak ambil perhatian akan keberadaan naskah klasik tersebut.
Dosen Sejarah Pendidikan Islam STAIN Pontianak ini yang sekaligus peneliti naskah klasik aksara Arab berbahasa Melayu, mengabdikan diri bersama dosen-dosen lain di bawah naungan Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M) STAIN Pontianak. Tujuannya tak lain melestarikan keberadaan naskah klasik yang pernah menjadi media pembelajaran serta media komunikasi jaya pada kurun waktu 17 hingga 19 Masehi.

"Pada era 17 sampai 19 M, masyarakat lebih mengenal aksara Arab berbahasa Melayu ketimbang huruf latin. Bahkan, kala saya duduk di bangku sekolah dasar pada tahun 70-an, pelajaran dengan menggunakan naskah aksara Arab berbahasa Melayu masih didapat murid di Sambas," ujarnya kepada Tribunpontianak.co.id (Tribun NetWork), Senin (23/7/2012).

Penggunaan media aksara Arab berbahasa Melayu tentunya tidak lepas dari pengaruh ulama-ulama serta pemuka-pemuka Islam terdahulu. Kalbar, katanya, memiliki ulama-ulama yang menuliskan buah pikir ke dalam naskah. Untuk menyebut misal, Muhammad Basiuni Imran dan Mufti Kerajaan Kubu, Ismail Mundu adalah dua tokoh berpengaruh yang meninggalkan naskah klasik yang ditulis dengan menggunakan huruf arab berbahasa Melayu.

Sumber : serambinews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar